Penjaja cerita di sabang

Ini sih sebenarnya udah lama, cuma gue pengen cerita aja soal salah satu hal yang buat gue seneng berada di jakarta. sebenarnya fenomena ini udah biasa apalagi di kota besar pake banget kaya jakarta ini. bisa nebak? fenomena ini tak lain dan tak bukan adalah, Kesenjangan Sosial. (berasa ga aura pinter gue?). buat yang uda lama tinggal di jakarta mungkin ini sudah biasa, bagian dari daily life, setiap hari dilihat jadi ga berasa spesial lagi. Beda sama gue, yang setiap ada kesempatan melihat fenomena ini, bakal termenung lama memikirkan ga-tau-apa.

Gue paling sering ngeliat kontras kehidupan ini di malam hari. perbedaan kesejahteraan sangat terlihat pada waktu-waktu ini, apalagi waktu malam minggu atau kalo kata anak gaul twitter: Satnite. Disaat anak muda yang masih yah.. muda menghabiskan uang orang tuanya dengan foya-foya ga jelas, sambil mengendarai mobil yang di aku-aku sebagai mobil mereka sendiri, padahal bonyoknya yang beliin. mereka ada disana. mengais tempat sampah, berjualan kopi keliling atau kalau dalam bahasa gue Barkeling (Barista Keliling), mengemis, atau berjualan keliling sambil membawa dagangan yang gue yakin sama sekali ga ringan.

salah satu dari mereka yang menarik perhatian gue adalah bapak-bapak penjual buku di sabang. waktu itu gue bareng temen-temen lagi ngumpulin dana buat acara kampus dengan cara ngamen di sabang. yah tau sendirilah sabang gimana, banyak warung-warung makan kaki lima yang kadang orang yang makan di situ bawa mobil V8. gue ngelihat bapak ini, yang berjualan buku dari satu warung makan ke warung makan lain sambil membawa tumpukan buku yang melebihi kepalanya. buku-buku itu tebalnya beraneka ragam, dari yang tipis sampe yang tebel. dan dia ngegotong itu semua tanpa bantuan apapun, tanpa gerobak, kantong, kardus, apapun.

sambil nyanyi cempreng merendengi teman gue yang lagi ngamen, gue memperhatikan bapak-bapak ini yang rambutnya sudah mulai putih. menawarkan bukunya dengan suara renta kepada orang-orang yang makan di tempat itu. beberapa menolak dengan halus, beberapa melihat-lihat dagangan bukunya, dan beberapa lagi mengacuhkannya sama sekali. kalau ga ada yang beli, dia bakal nyusun bukunya lagi jadi satu tumpukan dan berjalan lagi. melihat dia, gue seakan-akan ditampar sama realita. gue malu karena gue selalu ngerasa ga puas sama hidup gue, gue selalu ingin lebih akan kehidupan gue ini. sedangkan di sekeliling gue masih banyak orang yang harus mencari makan hingga dini hari, tanpa jelas mereka sudah makan hari itu apa belum. gue sadar, seharusnya gue lebih mensyukuri dan menghargai apa yang gue punya daripada apa yang seharusnya gue punya.

hidup seperti itu siapa yang mau? siapa yang kepingin? pasti ga ada. menggotong-gotong buku bejibun di saat dia seharusnya sudah bermain-main dengan cucunya, menikmati masa tua dengan tenang, bukan sebuah kehidupan yang dia ingini. potret seperti ini selalu nampar gue, saat gue mulai terlalu membabi buta menuruti keinginan gue. bahkan dalam sela-sela lirik lagu yang gue nyanyikan, gue masih sempat iri dengan orang yang bawa Mercedes SL300 yang parkir ga jauh dari tempat gue ngamen. ah, kapan dewasanya lo lit?

gue sadar kok, kalau gue pengen berhasil, ya gue harus usaha ekstra keras dari sekarang, jakarta ga pernah berbelas kasihan sama siapapun, cuma selalu aja ada pendatang yang mengharapkan gemintang dari sang ibu kota nan kejam ini. beberapa kalah, jatuh, jadi kadaver di jalanan yang disepuh dengan emas oleh mereka yang berhasil disini. dan gue ga mau jadi salah satu kadaver itu.

ga berapa lama kemudian, genjrengan gitar berhenti, acapella suara fals gue dan temen-temen gue berhenti. setelah mengguncangkan kantong goodie bag acara kampus didepan orang-orang yang makan disana, kita beringsut ke warung lain untuk ngamen disana dan warung lainnya. sambil membakar rokok, di belakang celotehan temen gue, gue menoleh kebelakang untuk melihat punggung dengan tumpukan buku didepannya yang berjalan menjauh. menjual buku, menjual cerita, untuk hidup.

orang bilang hidup itu ga adil. emang, gue setuju sekali kalo hidup itu ga pernah adil. tapi gue yakin,

Tuhan itu selalu adil.

Comments